Retna Ika Suryaningrum 1). Subakir 2)

ABSTRACT

Background: Morinda Citrifolia (M. Citrifolia) is a traditional drug which have antifungal effect. Ketoconazole is an effective antifungal agent in the treatment of P. versicolor which is a superficial fungal infection that usually producing hypopigmentation and hyperpigmentation macules in the stratum corneum of the skin, caused by M. furfur. This study was aimed to compare the effectiveness of 2% M. citrifolia versus 2% ketoconazole in vitro to the growth of M. furfur in P. versicolor.
Methods: This was an experimental study using post-test design with 30 patients of P. versicolor as samples. The diagnosis of M. furfur based on the result of microscopic examination of skin scrapping from samples using KOH + blue black Parker ink, inoculated on the Sabouraud Dekstrose Agar olive oil + Amoxycillin 2mg/200cc medium (37°C for 3-5 days). The colonies of M. furfur were diluted in sterile 0,9% NaCl as equal as 0,5 Mc Farland standard. As many as 0,1 cc of solution was cultivated on the olive oil Sabouraud Dekstrose Agar media supplemented with 2% M. citrifolia and 1% ketoconazole incubated at 37° C for 2 days. The difference proportion of growth was analyzed by Chi square test with degree of signifance of p<0,05.
Results: 30 media of olive oil Sabouraud Dekstrose Agar contained 2% M. citrifolia, 29(96,7%) were (+)/positive for M. furfur growth and 1(3,3%) were (-)/absence for M. furfur growth. Meanwhile, 30 media contained 2% ketoconazole, 26(86,7%) were positive and 4(13,3%) were negative. The Chi square test is not significantly different (p=0,161).
Conclusion: There was no significant difference between the effectiveness of 2% M. citrifolia with 2% ketoconazole in inhibiting the growth of M. furfur in P.versicolor.

Key Words: Pityriasis versicolor, Malassezia furfur, Morinda citrifolia, ketoconazole

ABSTRAK

Latar belakang: M. citrifolia adalah tanaman obat tradisional yang mempunyai efek anti jamur. Ketokonazol adalah anti jamur yang efektif dalam pengobatan P. versikolor yang merupakan infeksi jamur superfisial yang memproduksi makula hipopigmentasi dan hiperpigmentasi pada lapisan stratum korneum kulit, disebabkan M. furfur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas M. citrifolia 2% dibandingkan ketokonazol 2% secara in vitro terhadap pertumbuhan M. furfur pada P. versikolor.
Metode: Penelitian eksperimental ini berdesain post-test only, menggunakan 30 penderita P. versikolor yang memenuhi kriteria klinis sebagai sampel. Setiap sampel diambil kerokan skuama kulit penderita untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan KOH + tinta Parker blue-black, dilanjutkan pembiakan pada Sabouraud Dekstrose Agar olive oil + Amoxycillin 2 mg/200 cc (37°C 3-5 hari). Hasil biakan (+) diencerkan NaCl 0,9% dan dibuat sama kekeruhannya dengan larutan Mc-Farland 0,5, diambil 0,1 cc ditanam pada media Sabouraud Dekstrose Agar olive oil yang mengandung M. citrifolia 2% dan ketokonazol 2%, dimasukkan inkubator (37°C 2 hari). Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi square dengan derajat kemaknaan p<0,05.
Hasil: Dari 30 media Sabouraud Dekstrose Agar olive oil yang mengandung M. citrifolia 2%, 29 (96,7%) dinyatakan (+)/tumbuh M. furfur dan 1 (3,3%) (-)/tidak tumbuh. Sedangkan dari 30 media Sabouraud Dekstrose Agar olive oil yang mengandung ketokonazol 2%, 26(86,7%) dinyatakan (+)/tumbuh M. furfur dan 4 (13,3%) dinyatakan (-)/tidak tumbuh. Uji Chi square didapatkan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,161).
Simpulan: Tidak ada perbedaan bermakna antara efektivitas M. citrifolia 2% dengan ketokonazol 2% dalam menghambat pertumbuhan M. furfur pada P. versikolor.

Kata Kunci: Pitiriasis versikolor, Malassezia furfur, Morinda citrifolia, ketokonazol

Leave a Reply