(Studi kasus di SMUN 3 Semarang)

Gregorius Virgianto A AP 1). Endang Purwaningsih 2)

ABSTRACT

Background: Obesity is a chronic condition characterised by an excess of body fat. Obesity in adolescence also take a problem for social life and emotional. Food habit in adolescent is significantly influenced by their change of life style, included in life style to consume fast food. This research was aimed to know whether consumption of fast food is a risk factor obesity in adolescent.
Subject and Methods: This was an analytic observational study using case control design. Sampels consist of 69 students high school with obesity as case and others 69 students high school with no obesity as control. It was called obesity if BMI score higher than 25. Controls were friends of cases that were age-and sex-matched with cases. Food frequency questionnaires were used to collect information on students consumption during the last one month, and other information were collected by questionnaires. The data analysed by SPSS 13.0 for Windows with Chi square test, and OR (Odds Ratio) was also done to know the relation of risk factors.
Results: The students with energy from fast food higher than 6%, 4.2 times more possible become fat (OR=4,2, with 95% CI=1,399-12,665) than with energy from fast food lower than 6%.
Conclusion: The higher contribution of fast food to total energy, the higher risk of obesity.

Key Words: obesity, consumption, fast food, high school student

ABSTRAK

Latar belakang: Obesitas merupakan suatu kondisi kronis dengan karakteristik kelebihan lemak tubuh. Obesitas pada remaja juga membawa masalah bagi kehidupan sosial dan emosi yang cukup berarti. Kebiasaan makan pada remaja dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan gaya hidup mereka, temasuk gaya hidup untuk mengkonsumsi makanan cepat saji. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah konsumsi fast food merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja.
Bahan dan Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan kasus-kontrol. Sampel terdiri dari 69 kasus siswa SMU dengan obesitas dan 69 siswa SMU yang lain sebagai kontrol. Batasan obesitas didasarkan pada IMT (disebut obesitas bila IMT>25). Kontrol merupakan teman dari kasus yang disesuaikan menurut umur dan jenis kelaminnya. Data konsumsi makanan dalam satu bulan terakhir diperoleh dengan metode food frequency questionnaires, dan data lain dengan menggunakan kuesioner. Pengolahan data menggunakan program SPSS 13.0 for Windows dengan uji Chi square dan dilakukan penghitungan OR (Odds Ratio) untuk mengetahui hubungan dan besarnya risiko dari suatu faktor risiko.
Hasil: Penelitian menunjukkan siswa dengan 6% energinya berasal dari makanan cepat saji 4,2 kali lebih mungkin menjadi gendut (OR=4,2, dengan 95% CI=1,399-12,665) dibandingkan siswa yang <6% energinya berasal dari makanan cepat saji.
Simpulan: Semakin tinggi kontribusi makanan cepat saji pada total energy, semakin tinggi risiko terjadinya obesitas.

Kata Kunci: obesitas, konsumsi, makanan cepat saji, siswa SMU

Leave a Reply