Kun Salimah1), Suyanto Hadi2)

ABSTRACT

Background: To prevent knee osteoarthritis we should know the risk factors, such as weight gain that may increase the BMI, leading to increase the risk of knee OA progression. The aim of this study was prove that there was a correlation between BMI with knee OA.
Methods: This was an observasional analitycal study. The samples were 56 patients of Poli Reumatik of Dr. Kariadi hospital in March to June 2005, fulfilling all clinical criterias of Altman 1991. The data, including; BMI, age, sex, were analyzed by Chi square with 95 % confidence interval, and level of significancy 0,05 with SPSS for Windows version 10.00.
Results: From 56 patients there were 29 patients with knee OA and 27 patients without knee OA. Chi square test showed that there was a significant correlation between higher BMI (BMI>22) with knee OA, p=0,045, prevalency ratio 2,083 for BMI >22 with 95 % confidence interval 0,8774,948.
Conclusion: This study showed that BMI>22 had probability to suffer from knee OA were higher compared with BMI<22

Key Words : Body Mass Index, Knee osteoarthritis,Prevalency ratio

ABSTRAK

Latar belakang: Faktor risiko yang berperan terhadap kejadian osteoartritis salah satunya adalah kenaikan berat badan, yang secara langsung dapat meningkatkan BMI. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan bahwa terdapat hubungan antara BMI dengan kejadian OA lutut.
Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan belah lintang. Sampel diambil dari pasien rawat jalan yang sedang berobat di Poli Reumatik RS Dr. Kariadi Semarang periode Maret sampai Juni 2005, sebanyak 56 dan memenuhi kriteria klinis Altman 1991. Data berupa, BMI, usia, serta jenis kelamin dianalisis dengan Chi square dengan interval kepercayaan 95% dan derajat kemaknaan 0,05, menggunakan SPSS for Windows versi 10.00.
Hasil: Dari 56 subjek penelitian, didapatkan penderita OA lutut sebanyak 29 dan nonOA lutut sebanyak 27. Uji Chi Square menunjukkan ada hubungan bermakna antara BMI>22 dengan kejadian OA lutut, (p=0,045), rasio prevalensi untuk BMI>22 sebesar 2,083, dengan interval kepercayaan 95%, 0,877 4,948.
Kesimpulan: Pada penelitian ini, sampel dengan BMI>22 mempunyai risiko terkena OA lutut lebih besar dibanding BMI=22.

Kata Kunci: BMI, Osteoartritis lutut, Rasio prevalensi

Leave a Reply